Teknologi

Wisata

Nasional

Latest Updates

Tampilkan postingan dengan label teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teknologi. Tampilkan semua postingan

Rusia dan Suriah Disebut Pelajari Teknologi Tomahawk, Sisa Rudal yang Ditembakkan AS

Kamis, Mei 10, 2018
TAMPAHAN ONLINE -- Rusia memamerkan beberapa foto peluru kendali (peluru) termasuk Tomahawk nyaris utuh yang diklaim diperoleh pasukan Suriah saat serangan Amerika Serikat (AS) dan sekutunya pada 14 April lalu.

Analis keamanan berpendapat, Rusia dan Suriah bisa untung besar untuk mempermalukan AS karena bisa mempelajari rudal Tomahawak yang diperoleh.

Beberapa foto peluru kendali canggih yang nyaris utuh itu dipamerkan Kementerian Pertahanan Rusia pada hari Rabu. Selain foto Tomahawk, ada satu lagi rudal jelajah canggih yang tidak disebutkan namanya.

Kementerian tersebut mengatakan, pihaknya berencana untuk mempelajari kedua rudal jelajah tersebut untuk lebih meningkatkan kemampuan sistem pertahanan udara Rusia. Tak dijelaskan bagaimana rudal-rudal canggih Barat itu bisa diperoleh pasukan Suriah saat serangan beberapa waktu lalu.

Tindakan kementerian itu mamamerkan foto-foto rudal jelajah AS dan sekutunya yang ditangkap pasukan Suriah juga untuk menepis klaim Presiden AS Donald Trump dan berbagai pejabat militer AS yang menyombongkan bahwa total 105 rudal yang ditembakkan ke Suriah mencapai target.

Moskow menegaskan, hanya ada 25 serangan rudal yang berhasil selama agresi singkat beberapa pekan lalu. Sedangkan sebagian besar ditumbangkan oleh sistem pertahanan udara Suriah atau memang tidak berfungsi.

Charles Shoebridge, analis keamanan dan mantan perwira militer Inggris, mengtakan agresi AS, Inggris dan Prancis sebenarnya berisiko mengobarkan senjata canggih Barat kepada Rusia. Sebab, kata dia, serangan itu tidak memberikan manfaat nyata di lapangan.

“Akan menjadi sumber keprihatinan besar bagi pihak Amerika, Inggris dan Prancis,” kata Shoebridge kepada Russia Today, yang dilansir Kamis (26/4).

“Tidak banyak manfaat nyata di lapangan, mengingat bahwa ini adalah sasaran sipil atau sebagian besar area kosong yang terkena, sementara Rusia telah memperoleh pengetahuan teknis tentang sistem senjata yang sebenarnya dikorbankan oleh tiga kekuatan ini,” ujarnya.

Shoebridge menunjukkan bahwa klaim Amerika tentang akurasi pemboman 100 persen kemungkinan besar tidak realistis.

“Dengan sejumlah besar senjata yang ditembakkan dan tembakan anti-pesawat diarahkan pada mereka, Anda akan mengharapkan, setidaknya, sebagian kecil dari mereka (rudal-rudal AS dan sekutu) tidak lolos,” katanya.

Analis ini memilih berhenti mendukung klaim Rusia maupun AS soal efeketvitas agresi singkat di Suriah.”Beberapa tokoh di antara…mungkin kebenaran, mungkin bohong,” ujarnya.

“Bahkan dari serangan yang sukses, Anda akan menemukan beberapa fragmen dari senjata yang digunakan, tetapi biasanya tidak dalam ukuran yang kami bicarakan di sini,” ujar Shoebridge. “Tapi yang pasti keberadaan fragmen seperti ini bisa menunjukkan fakta bahwa beberapa rudal tidak berfungsi, ditembak jatuh atau hanya mendarat di tempat yang salah.”

Ketika ditanya tentang kemungkinan reaksi AS terhadap diperolehnya rudal jelajah Tomhawak oleh pasukan Suriah, dia mengatakan bahwa itu akan ditangani secara publik.

“Cara itu biasanya ditangani, yang entah akan diabaikan atau think tank dan yang disebut para ahli akan diberi tugas untuk mengejek laporan Rusia ini,” paparnya.

Juru bicara Pentagon Eric Pahon mengatakan, pernyataan Kementerian Pertahanan Rusia tidak masuk akal.”(Itu) contoh lain dari kampanye disinformasi Rusia,” katanya.

Justin Bronk, ahli tempur udara di Royal United Services Institute mengatakan kepada Business Insider bahwa Rusia dan Suriah kemungkinan hanya memiliki potongan Tomahawk yang diledakkan. Menurutnya, potongan senjata itu tidak akan berguna banyak.

“Saya tidak tahu apakah Rusia atau Suriah telah menangkap Tomahawk, meskipun saya yakin mereka memiliki banyak potongan untuk dipelajari dari senjata yang mencapai targetnya,” kata Bronk.

Menurutnya, tak seperti bidang teknologi lainnya di mana Rusia tertinggal jauh di belakang AS, rudal jelajah Rusia sebenarnya cukup mumpuni. Moskow telah menggunakan rudal jelajah yang ditembakkan dari kapal angkatan laut dan kapal selam untuk menyerang sasaran di Suriah sebelumnya, dan mereka menunjukkan kisaran dan kemampuan yang sama dalam melakukannya.

“Rudal-rudal jelajah itu tidak persis daerah di mana Moskow sangat membutuhkan akses ke teknologi Barat,” kata Bronk. “Meskipun Rusia akan akan senang untuk memeriksa Block 4 Tomahawk utuh untuk memiliki sensor dan paket panduan yang tetap,” ujarnya.

“Klaim Rusia adalah mungkin hanya berpura-pura dalam kasus ini untuk mencoba dan mempermalukan AS,” imbuh dia. (sumber)

Hamparan Sawah Tampahan Disebut Mirip Ubud

Minggu, Februari 11, 2018
Obyek wisata Bukit Tarabunga di Balige, Toba Samosir, Sumatera Utara memang tidak boleh dilewatkan wisatawan. Khususnya bagi anda penggemar pemandangan alam pematang sawah seperti yang berada di Ubud, Bali.

Pemandangan sawah bertingkat menjadi pemandangan yang tidak boleh dilewatkan untuk berfoto ria sebelum atau sesudah anda mendokumentasikan sudut terbaik Danau Toba yang berada di sisi lainnya pemandangan persawahan.

Bukit Tarabunga kaya akan spot foto menarik. Terutama di pagi dan sore hari, wisatawan akan mendapatkan foto yang bagus karena jika mengambil foto di siang hari, langit terlalu terang dan silau sehingga cahaya menutupi keindahan padi.

Jika beruntung, alias cuaca sedang tidak berkabut, pemandangan Kota Balige juga dapat terlihat dan membuat mata takjub akan keindahan Kota Balige.

Elfa, wisatawan, menuturkan, pemandangan sawah di Bukit Tarabunga cukup mencuri perhatian.

"Padahal padinya baru dipanen sehingga tidak terlalu hijau, tapi pemandangan sawahnya tetap indah, entah karena view sekitar yang juga banyak bukit menambah nilai plus view tersebut," katanya.

"Untuk mencapainya juga tidak susah," sambung Elfa.

Dari simpang jalan menuju pusat kota Balige, pamflet nama Jalan Tarabunga sudah terpampang. Tinggal jalan terus mengikuti jalan menuju ke puncak.

"Setelah sekitar 3 kilometer akan ada simpang tiga yang akan membuat bingung karena tidak ada petunjuk arahnya, tapi satu jalan menuju ke atas dan jalan satunya menurun. Karena saya mau ke puncak tentu mengambil belokan yang ke atas. Setelah itu tinggal terus, dan menemukan pemandangan persawahan, anda sudah sampai di Bukit Tarabunga. Karena di dekat persawahan tepatnya, ada lapangan yang sering kali didatangi pengunjung untuk melihat view Danau Toba dari sudut yang masih jarang terekspos," jelasnya.

Bukit Tarabunga tak jauh dari pusat ibu kota Kabupaten Tobasa, Balige, sekitar 5 kilometer saja. Bukit ini pun hanya 2 kilometer dari kantor Kecamatan Tampahan.

Tidak jauh dari Kantor Dinas Pariwisata Daerah Balige, kawasan Bukit Tarabunga memiliki akses jalan yang bagus hingga ke puncak.

Sehingga wisatawan cukup mudah menjangkau obyek wisata tersebut tanpa harus kesulitan. Namun, jalannya tidak terlalu besar, alias tidak cukup untuk 2 mobil berpapasan. (sumber)

Ada Longsor di Meat

Minggu, Februari 11, 2018
ilustrasi
Bongkahan tertumpuk menimbun badan jalan di Desa Meat Siuga, Kecamatan Tampahan, Balige, Kabupaten Tobasa, Sumatera Utara, Minggu (17/12/2017). Sejumlah kendaraan terpaksa ditinggalkan pengemudinya di tempat tersebut.

Batu-batu lain tersisa terlihat mengancam keselamatan siapa saja yang melintas. Batu-batu lainnya masih tersisa dan terlihat menggantung di sisi tebing.

Menurut warga, Jhon Prin Pardede longsor tersebut terjadi pada Minggu Dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Akibatnya, jalan tertutup dan tidak bisa dilewati kendaraan sekalipun kendaraan roda dua.

"Kejadiannya semalam tiga pagi,"ujarnya.

Katanya, hingga kini belum ada terlihat tanda-tanda pembersihan bongkahan tersebut oleh Pemkab Tobasa. Sementara warga tak berdaya bila hanya menggunakan linggis dan martil untuk memecah batu-batu itu seperti yang dikakikan sebelumnya.

KTA pardede, sebelumnya mereka hanya pernah bergotong royong menyingkirkan batu-batu yang menghalangi pengendara. Warga yang biasanya naik kendaraan untuk berbagai keperluan tepaksa berjalan kaki, sementara batu-batu besar tampak mengintai sewaktu-waktu bisa longsor.

Kepala Desa Meat Janri Simanjuntak mengaku sudah menyampaikan hal itu kepada pihak Badan Penanggulangan, Bencana Daerah (BPBD) Pemkab Tobasa sejak Minggu Pagi. Namun, sampai tengah hari belum ada upaya Pemerintah Kabupaten Toba Samosir mendatangkan alat berat menggeser sisa-sisa longsor. Padahal, jalan tersebut merupakan jalan vital yang menghubungkan desa Meat dengan Balige.


 Selain itu, apabila jalan itu berlama-lama dibiarkan, tentu aktifitas masyarakat dengan jumlah 190 Kepala Keluarga (KK) di desa akan ternganggu. Longsoran itu juga tidak cukup hanya digeser, namun harus didirikan tembok penahan longsor.

 "Sebaiknya, beberapa titik harus juga dibangun tembok untuk menahan longsor. Kalau tidak, badan jalan akan terus ditutupi longsor, apalagi sat musim hujan," tambahnya. (sumber)

Pedagang Ramai-Ramai Berburu Cabai ke Tampahan, Kenapa?

Minggu, Februari 11, 2018
Sejumlah pedagang pengumpul dari beberapa daerah di Sumut memburu cabai ke Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba Samosir (Tobasa). Kecamatan ini merupakan salah satu area pertanian, khususnya komoditas cabai. Sementara, di daerah lain stok cabai sedikit.

"Kami mengetahui bahwa Kecamatan Tampahan merupakan salah satu daerah pertanian yang warganya giat bertani, khususnya tanaman jenis cabai. Ketika terjadi kelangkaan cabai ini, sasaran utama adalah daerah ini, " ujar Dorti Sinambela, salah seorang pedagang pengumpul, Kamis(1/2/2018), di Tampahan.

Ia mengatakan, saat ini terjadi kelangkaan cabai. Akibatnya, harga melonjak 100%. "Kejadian seperti ini untuk jenis cabai sudah sering terjadi, " sebutnyanya yang mengaku datang dari Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan.

Hal senada disampaikan Alfian Harahap, pedagang dari Kota Padang Sidimpuan. Ia berharap dapat membawa cabai itu ke daerahnya. "Ini hari ketiga, yang sudah terkirim masih 100 kg dan masih butuh lebih banyak lagi, " ungkapnya.

Ia menjelaskan, sidikitnya produksi cabai karena banyak petani gagal panen. Akibatnya, harga meningkat dari sebelumnya Rp. 35.000/kg menjadi Rp 70.000-Rp 80.000/kg. "Tergantung kualitas dan jenisnya," ucapnya. (sumber)

Horas

Selasa, Desember 02, 2008
Di Berita Tampahan
 
Copyright © Berita Tampahan. Designed by OddThemes