Ketegangan di provinsi Hasakah, Suriah, terus mengemuka meski gencatan senjata diumumkan antara Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dan pemerintah Damaskus. Situasi di lapangan tetap dinamis dan sulit diprediksi, menandai ketidakpastian politik dan militer di wilayah tersebut.
Tentara Suriah telah memasuki Tell Brak, benteng penting suku Jabour di jalur vital Qamishli–Hasakah. SDF sebelumnya telah meninggalkan wilayah ini, namun pendudukan oleh pemerintah pusat kini memaksa setiap pergerakan SDF antara Hasakah dan Qamishli melewati Tell Tamer. Wilayah itu sendiri masih berada di bawah kontrol SDF untuk sementara waktu.
Damaskus mengumumkan gencatan senjata selama empat hari untuk memberi waktu SDF menerima kesepakatan. Dengan tiga hari tersisa, keputusan bagi SDF tampak sulit: menerima persyaratan yang hampir menyerahkan kontrol penuh, atau menolak dengan risiko menghadapi konfrontasi militer.
Secara praktis, persyaratan yang diajukan menawarkan posisi simbolis bagi SDF, seperti jabatan “wakil” menteri pertahanan dan gubernur Hasakah. Namun, kekuasaan nyata tetap berada di tangan pemerintah pusat, yang menegaskan wilayah Hasakah dan Qamishli akan kembali di bawah kendali Damaskus.
SDF mendapatkan jaminan bahwa tentara Suriah tidak akan memasuki desa-desa Kurdi. Namun, jaminan ini bersifat terbatas dan hanya berlaku jika mereka menerima gencatan senjata, meninggalkan dilema strategis bagi pemimpin SDF di lapangan.
Sementara itu, pasukan koalisi pimpinan AS tengah memindahkan tahanan ISIS bernilai tinggi dari Suriah ke Irak. Pergerakan ini menunjukkan bahwa penjara al-Sina’a di distrik Ghuwayran, yang mayoritas penduduknya Arab, sedang dikosongkan.
Berita tersebut menimbulkan spekulasi bahwa SDF sedang mempersiapkan posisi pertahanan baru. Hal ini memunculkan kemungkinan bentrokan kembali jika gencatan senjata gagal ditegakkan.
Tujuan militer Damaskus kemungkinan besar adalah mengamankan kota Hasakah, Tell Tamer dan Qamishli, setidaknya sampai sabuk selatan yang didominasi suku Arab. Kontrol atas kawasan ini juga penting karena mencakup bandara Qamishli, yang kini ditempati pasukan Rusia.
Jika posisi-posisi ini jatuh ke tangan pemerintah, wilayah yang dikuasai Kurdi di Hasakah akan terpecah menjadi dua kantong terpisah. Hal ini akan menambah kerumitan logistik dan keamanan bagi SDF.
Meski demikian, SDF masih menguasai ladang minyak Rmelan dan pabrik gas Sweidiyeh. Infrastruktur ini krusial untuk pengolahan gas dan pasokan listrik di seluruh provinsi Hasakah, memberi leverage bagi SDF dalam negosiasi politik dan keamanan.
Kendali atas jalur Semalka menuju wilayah Kurdistan tetap menjadi titik vital. Jalur ini menjadi garis hidup utama SDF dan krusial bagi kelangsungan operasi jika perjanjian runtuh atau konflik kembali meletus.
Pemerintah Damaskus tampak menekankan strategi penguasaan wilayah inti, sambil menunggu keputusan SDF terkait penerimaan gencatan senjata. Tekanan politik dan militer di lapangan diperkirakan akan meningkat dalam beberapa hari mendatang.
SDF berada di persimpangan sulit: menerima posisi simbolis dengan risiko kehilangan kendali, atau mempertahankan wilayah dan menghadapi kemungkinan bentrokan langsung dengan tentara Suriah.
Koalisi internasional, terutama AS, tampak fokus mengamankan tahanan ISIS dan menjaga jalur logistik bagi pasukan Kurdi. Ini menunjukkan peran penting aktor eksternal dalam dinamika konflik lokal.
Tell Brak menjadi simbol strategis. Posisi ini tidak hanya menghubungkan jalur transportasi utama, tetapi juga memengaruhi keseimbangan kekuatan antara pemerintah dan SDF di provinsi Hasakah.
Sementara itu, keberadaan pasukan Rusia di bandara Qamishli memberi keunggulan tambahan bagi Damaskus. Dukungan logistik dan intelijen dari Rusia dapat mempercepat mobilisasi tentara Suriah ke wilayah yang disengketakan.
Kondisi di Tell Tamer menjadi fokus diplomasi lokal. Kontrol atas wilayah ini dianggap sebagai kunci bagi stabilitas sementara di sepanjang jalur Qamishli–Hasakah.
Pertahanan infrastruktur energi oleh SDF menunjukkan strategi bertahan yang berfokus pada aset kritis. Ladang minyak dan pabrik gas berfungsi sebagai bargaining chip dalam negosiasi politik.
Jika gencatan senjata tidak berhasil, kemungkinan terjadi pertempuran berskala kecil hingga menengah meningkat. Hal ini dapat memicu migrasi internal, kerusakan fasilitas publik, dan krisis kemanusiaan di Hasakah.
Secara keseluruhan, provinsi Hasakah tetap menjadi titik tumpu konflik politik dan militer di Suriah timur laut. Posisi SDF, pemerintah Damaskus, dan aktor internasional seperti AS dan Rusia menentukan arah jangka panjang.
Kesimpulannya, meski gencatan senjata diterapkan, situasi di Hasakah jauh dari stabil. Semua pihak berada dalam dilema strategis yang dapat memicu eskalasi kapan saja, sementara warga sipil tetap menghadapi ketidakpastian dan risiko tinggi.

Posting Komentar