Industri militer Yaman kini menghadapi realitas yang terfragmentasi, terbagi menjadi dua pusat utama. Satu berada di ibu kota Sanaa yang dikuasai pemerintah Houthi, sedangkan yang lain berada di Aden di bawah Pemerintah Yaman yang diakui internasional, termasuk berada di bawah koordinasi Dewan Kepemimpinan Transisi atau PLC.
Pemisahan ini berdampak signifikan pada produksi dan distribusi peralatan militer. Di Sanaa, fasilitas yang sebelumnya berada di bawah Badan Manufaktur Militer Angkatan Bersenjata berfokus pada produksi kendaraan tempur ringan, amunisi, senjata infanteri, serta pengembangan drone untuk operasi tempur dan pengintaian.
Beberapa kendaraan tempur yang tetap diproduksi di Sanaa termasuk model Qatish 1 dan 2 serta Jalal 3. Selain itu, produksi senjata ringan seperti senapan runduk, senapan mesin, dan senjata infanteri lokal terus berlanjut meski menghadapi keterbatasan suku cadang akibat embargo dan sanksi.
Di sektor drone, Sanaa dikenal memiliki tim insinyur yang relatif maju. Namun, banyak insinyur drone yang tewas secara misterius dalam beberapa tahun terakhir, memunculkan spekulasi tentang sabotase atau operasi rahasia musuh yang menargetkan pengembangan teknologi militer Houthi.
Sementara itu, di Aden, industri militer yang berada di bawah PLC berfokus pada kendaraan logistik, amunisi, dan kendaraan lapis baja yang dikenal sebagai Jalal series. PLC juga memproduksi versi lokal senapan dan senjata ringan yang digunakan untuk pasukan loyalis pemerintah.
Beberapa tokoh penting di sektor manufaktur Aden, termasuk insinyur dan perwira senior, mengalami nasib tragis. Mayor Jenderal Hassan bin Jalal al-Obeidi, yang menjadi direktur Departemen Manufaktur Militer di PLC, ditemukan tewas di apartemennya di Kairo. Kasus ini menambah daftar kematian misterius tokoh militer dan teknisi penting di wilayah yang berada di bawah PLC.
Produksi kendaraan logistik di Aden termasuk truk multiguna seperti UAZ-469 dan Gaz-2975. Kendaraan ini digunakan untuk pasokan logistik, patroli, serta mobilisasi cepat pasukan di wilayah konflik. Selain itu, PLC juga mengelola produksi amunisi kaliber ringan dan sedang untuk menjaga kemampuan tempur pasukannya.
Di Sanaa, pengembangan kendaraan tempur ringan tetap berlanjut meski dibatasi oleh embargo. Kendaraan Humaydah dan Jalal series menjadi tulang punggung mobilisasi Houthi di berbagai front pertempuran. Produksi senjata ringan juga menyesuaikan dengan kebutuhan medan lokal.
Selain itu, kedua kubu terus mengembangkan drone dengan fungsi pengintaian dan serangan. Drone Sanaa dikenal dengan kemampuan modifikasi lokal yang cukup canggih, sementara PLC lebih banyak mengandalkan bantuan teknis dan komponen dari sekutu internasional.
Dampak dari pemisahan ini juga terlihat pada koordinasi logistik. Sanaa menghadapi keterbatasan pasokan bahan baku, sehingga produksi berskala besar sering terkendala. PLC di Aden, meski lebih stabil, harus menghadapi risiko serangan dan tekanan politik dari konflik internal serta ancaman eksternal.
Kematian para insinyur drone di Sanaa dan perwira penting di Aden menimbulkan kekhawatiran bahwa pengembangan teknologi militer Yaman rentan terhadap operasi rahasia dan sabotase. Hal ini menambah ketidakpastian bagi masa depan industri militer kedua kubu.
Di bawah PLC, kendaraan Jalal 1, 2, dan 3 tetap menjadi fokus produksi strategis. Selain itu, PLC juga memperkuat lini senjata ringan seperti MP-18 dan MP-40 versi lokal untuk memperkuat infanteri. Beberapa fasilitas juga memproduksi amunisi kaliber menengah hingga berat untuk mendukung operasi militer.
Sementara itu, di Sanaa, produksi kendaraan Qatish 1 dan 2 serta Humaydah lebih fokus pada mobilitas cepat di medan pegunungan dan kota. Senjata ringan seperti Gewehr 43, Vickers, dan Dragunov versi lokal juga terus diproduksi, dengan modifikasi untuk menyesuaikan kondisi tempur lokal.
Kematian tokoh seperti al-Obeidi dan sejumlah insinyur drone menimbulkan pertanyaan serius terkait keamanan personel penting dalam industri militer. Insiden di Kairo dan beberapa kematian misterius di Sanaa menjadi catatan kelam sejarah industri pertahanan Yaman.
Dampak dari kondisi terbelah ini membuat kapasitas industri militer Yaman tidak bisa bersatu dalam satu rantai komando. Kedua kubu harus menyesuaikan strategi produksi dan distribusi berdasarkan kemampuan wilayah masing-masing.
Meskipun demikian, kedua pusat industri tetap menunjukkan kemampuan adaptasi. Sanaa dengan sumber daya terbatas berhasil memproduksi kendaraan tempur ringan dan drone pengintaian, sementara Aden memanfaatkan hubungan internasional untuk menjaga produksi logistik dan senjata ringan.
Bagi Houthi, kemandirian produksi drone menjadi prioritas strategis. Namun, risiko serangan dan kematian insinyur menghambat percepatan pengembangan teknologi tersebut.
PLC di Aden, meski lebih stabil, harus menghadapi tekanan keamanan di kota-kota penting, sekaligus memastikan pasokan bahan baku tetap terjaga. Kehilangan perwira senior seperti al-Obeidi menjadi pukulan berat bagi organisasi manufaktur militer di wilayah ini.
Kisah industri militer Yaman yang terbelah menjadi dua wilayah ini menunjukkan bahwa konflik internal tidak hanya menghancurkan medan tempur, tetapi juga merusak fondasi teknologi dan kemandirian pertahanan nasional. Masa depan kedua kubu industri militer kini bergantung pada keamanan personel kunci dan stabilitas politik yang belum pasti.
Jika stabilitas dapat tercapai di masa mendatang, pengalaman manufaktur lokal di Sanaa maupun Aden tetap dapat menjadi modal untuk membangun kembali kemampuan pertahanan nasional Yaman. Namun, tantangan besar tetap ada, mulai dari ancaman eksternal, kematian misterius tokoh penting, hingga fragmentasi industri yang berkepanjangan.

Posting Komentar